Showing posts with label Adat. Show all posts
Showing posts with label Adat. Show all posts

Thursday, 13 July 2017

Pesona Seribu Rumah Gadang



Rumah Gadang merupakan rumah tradisional miliki suku Minangkabau Di Sumatera Barat. Rumah yang identik dengan bentuk atap yang khas dikenal dengan atap Bajonjong. Rumah Gadang hampir seluruhnya terbuat dari  kayu. Konon dulunya tiang utama rumah gadang dibuat tanpa menggunakan paku. Untuk menghubungkan antara tiang satu dengan yang lainnya dengan memasak atau tiang utama di lubangi lalu bagian ujung penyangga dibuat sesuai ukuran lubang lalu dimasukkan. Cara ini akan membuat bangunan akan menjadi tahan gempa.

Berbagai macam cara dilakukan untuk melestarikan Rumah Gadang. Di beberapa tempat di Sumatera Barat, ada kawasan yang dimana rumah penduduknya dan kantor pemerintahannya Rumah Gadang. Salah satu kawasan yang terkenal adalah Kawasan 1000 Rumah Gadang yang ada di Solok Selatan.  Tahun 2016 kawasan ini memecahkan Rekor MURI sebagai kawasan yang memiliki rumah gadang yang terbanyak. Kawasan ini tersebbar di beberapa daerah di Solok Selatan, tetapi kawasan yang paling terkenal dan banyak dikunjungi adalah di Nagari Koto Baru Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan.

Kawasan ini berjarak 150 KM dari Kota Padang atau kurang lebih empat jam perjalan dengan kendaraan pribadi. Tidak sulit untuk menemukan kendaraan atau alat transpor yang akan mengantar pengunjung kesana. Letaknya juga tidak jauh dari jalan utama Solok Selatan - Kerinci Jambi. Selain itu, kawasan ini juga merupakan salah satu tempat pengambilan gamar beberapa film Layar Lebar dan beberapa film FTV dan sinetron Indonesia.

Pemandangan kiri kanan hanya rumah gadang dan pemendangan alam Sumatera Barat. Jajaran Rumah Gadang dengan keunikannya akan memanjakan mata anda. Jumlah rumah Gadang yang paling banyak di sau kawasan adalah 134 yang tercatat pada tahun 2016. Rumah Gadang ini berfungsi sebagai rumah penduduk setempat. Jika anda ingin merasakan sensasi menginap di rumah Gadang pengunjung bisa menanyakan apakah boleh menginap untuk semalam. Ada beberapa penduduk yang mau menerima turis atau wisatawan untuk menginap di rumahnya .
    



Sunday, 11 June 2017

Tradisi Unik Bulan Ramadhan di Sumatera Barat


Dibulan suci Ramadhan ini ada satu tradisi unik yang sering dilakukan oleh Minang di Sumatera Barat. Maantaan lamang atau ada juga yang menyebutnya dengan maantaan pabukoaan. Maantaan lamang atau maantaan pabukoan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak perempuan berupa mengantarkan pabukoaan (makanan untuk berbuka puasa) kepada pihak keluarga laki-laki. Kegiatan ini sudah ada sejak zaman dulu dan terus di turunkan secara turun temurun hingga saat ini.

Makanan yang diantarkan menggunkan rantanng atau dalam bahasa minang disebut juga dengan "Sia". Isi sia diantaranya lauk pauk seperti randang, ayam goreng, ikan goreng, kalio, gulai ikan, gulai ayam dan lain sebagainya. Selain lauk pauk juga ada pabukoan atau takjil seperti agar-agar, cendol, ondeh-ondeh, ketupat atau lamang dan tepe ketan yang menjadi teman untuk makan ketupat atau lemang. 

Kegiatan ini memiliki makna diantaranya untuk menjaga hubungan silaturahmi. Lamang atau pabukoan yang diantarkan tidak hanya satu untuk mertua tetapi juga untuk sana dan keluarga suami. Apalagi kalau itu merupakan pasangan pengantin baru. Bagi penganti wanita ini juga merupakan sekaligus untuk pengenalan dan pendekatan diri kepada keluarga suami. Selaian sebagai penjaga silaturahmi makna lainnya juga mengajarkan pada kita makna berbergi dengan sesama. Di bulan suci ini memang disarankan untuk lebih banyak berbagi dengan orang lain. Hal ini adalah ajuran agama islam.

Thursday, 1 June 2017

Adat dan Budaya Orang Minang di Bulan Ramadhan

Setiap daearah di Indonesia memiliki tradisi-tradisi terseni diri pada bulan Ramdhan. Tradisi ini sesuai dengan kebudayaan masing-masing daerah. Mau tahu tradisi apa saja yang dilakukan oleh orang Minang pada bulan Ramadhan? Yuks intip di bawah ini:


1. Ziarah Kubur

Ziarah kubur ini biasanya dilakukan oleh keluarga yang anggota keluarganya sudah meninggal. Dilakukan sehari sebelum bulan Ramadhan. Tujuannya untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah bersih-bersih makan dan berdoa.

2. Balimau

Jika mendengar kata Balimau maka orang akan teringat dengan mandi dan membersihkan diri. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sungai-sungai yang besar dan mandi-mandi. Dulu balimau merupakan kegiakan mandi dengan menggunkan jeruk nipis dan bunga-bunga. Sekarang kegiatan mendi dengan jeruk nipis sudah jarang dilakukan. Masyarakat hanya sekedar mandi-mandi saja. Kegiatan ini dilakukan sehari menjelang bulan Ramdhan.


3. Manjalang Mintuo

Manjalang mintuo merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perempuan Minang yang telah memiliki suami. Kegiatan ini berupa mengunjungi mintuo (mertua) dengan membawa buah tangan. Jika mereka adalah pengantin baru maka buah tangan yang dibawa tidak hanya untuk mertua saja tetapi juga untuk keluarga lain di pihak laki-laki. salah satu makanan wajib dibawa adalah lemang. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebelum bulan Ramadhan atau awal Ramadhan.



4. Maantaan Pabukoan

Maantaan Pabukoaan tak jauh beda dengan manjalang mintuo. Biasanya dilakukan oleh pihak perempuan. Jika merekaadalah pasangan pengantin baru, pabukoaan yang diantar tidak hanya satu tapi kepada seluruh keluarga besar pihak laki-laki. Biasanya dibawa dengan menggunkan sia (rantang). Isinya berupa samba (lauk pauk) dan pabukoan seperti agar-agar dan lainnya.


Sunday, 28 May 2017

Mesjid Raya Sumbar (Sumatera Barat)



Salah satu yang menjadi icon di kota Padang adalah Mesjid Raya Sumatera Barat. Mesjid yang dibanguan akhir tahun 2007 ini merupakan salah satu kebanggaan orang Sumatera Barat. Memiliki gaya arsitektur moderen dan khas Minangkabau terletakdi jalan Khatib Sulaiman Padang. Berdiri megah di atas tanah seluas 40.343 meter persegi dan luas bangunan 4.430 meter persegi dengan tiga lantai.

Pelatakan batu pertama mesjid ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu yaitu Gamawan Fauzi pada 21 Desember 2007. Pembangunannya terdiri dari empat tahap. Tahap pertama dimulai awal tahun 2008 dan selesai tahun 2010 yaitu menyelesaikan struktur bangunan. Tahap kedua yang dimulai tahun 2010 untuk mengerjakan ruang shalat dan tempat wudu'. Tahap ketiga dimulai tahun 2011 untuk pemasangan keramik lantai dan eksiterior mesjid. Tahap keempat yang dimulai tahun 2012 untuk penyelesaian pembangunan.

Dana yang telah dihabiskan kurang lebih Rp 175 miliar. Pembangunan mesjid ini sempat terhenti selama setahuan pada tahun 2013. Hal ini dikarenakan ketiadaan anggaran dari provinsi. Dana pembangunan mesjid ini tidak hanya dari pemerintahan saja, tetapi juga sumbangan dari masyarakat di Sumatera Barat, perantau Minang dan dana bantuan dari pihak lain bahkan ada dana bantuan dari Arab Saudi.

Mesjid ini berfungsi dimulai akhir tahun 2013 dan pada tanggal 7 Februari 2014 secara rutin Mesjid Raya Sumatera Barat memulai salat Jumat rutin. Selain kegiatan salat Jumat, mesjid ini juga menyelengggarakan acara lainnya seperti Wirid dan kegiatan agama lainnya. Selain tempat ibadah mesjid ini juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan lainnya. Pada tahun 2017, kegiatan Padang Book Fair dilaksanakan di mesjid ini tepatnya di lantai dasar yang merupakan tempat untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan.


Sejak dibukanya mesjid ini, banyak pengunjung yang datang berkunjung. Ada yang hanya sekedar berkunjung dan ada juga yang untuk beribadah dan serta kegiatan keagaamaan lainnya. Sampai sekarang tahap penyelesaian pembangunan masih berjalanjut terutama pembangunan taman mesjid.


Sunday, 14 May 2017

Kesetaraan Gender dan Budaya Materilineal Di Minangkabau









Setelah pernikahan biasanya laki-laki Minangkabau akan tinggal di rumah istrinya. Jika terjadi perceraian yang akan meninggalkan rumah adalah laki-laki dan hak asuh terhadap anak secara otomatis akan jatuh kepada pihak perempuan. Selain itu, aturan lain yang berpihak pada perempuan adalah mengenai harta pusaka tinggi. Perempuan berhak sepenuhnya atas pewarisan harta pusaka tinggi, tetapi laki-laki masih dapat memakainya seperti menggarap lahan pertanian.

Baca juga: Harta Pusaka Di Minangkabau


Perempuan-perempuan Minangkabau memilikiposisi-posisi tertentu dalam sukunya. Hal ini juga berlaku dalam sistem kekerabatan matrilineal yang dianut oleh suku lainnya. Suku Nyana di Afrika memiliki sistem kekerabatan materilineal yang hampir mirip dengan sistem materilineal Minangkabau. Kesamaan utama yang sistem kekrabatan matrilineal adalah garis keturunan berasal dari pihak perempuan/ibu. Bahkan di beberapa suku tersebut perempuan memiliki hak mutlak atas laki-laki. Kesetaraan genter bagi mereka sangat terbaliki.

Sistem kekerabatan ini mungkin menjadi penyebab mengapa di wilayah ini, permasalahan gender jarang sekali terdengar. Sebelum dunia dihebohkan dengan tuntutan untuk kesetaraan gender, suku-suku ini terlebih dulu telah menerapkan kesetaraan gender dalam adat dan budayanya. Suku-suku ini tidak memandang rendah perempuan. Mungkin hal ini juga yang menjadi alasan mengapa suku-suku tersebut menganut sistem matrilineal. Ada beberapa alasan yang mungkin menjadi alasan lahirnya sistem kekerabatan matrilineal di bumi ini, diantaranya:
  1. Perempuan yang memiliki fisik yang lebih lemah jika dibandingkan dengan laki-laki perlu untuk dilindungi. Dengan menjadikan mereka sebagai pemimpi atau penguasa akan dapat melindungi perempuan dari pihak yang ingin merugikannya.
  2. Kodrat perempuan untuk melahirkan generasi penerus baik dalam keluarga maupun kaumnya. Semetara laki-laki/suami mencari nafkah untuk keluarganya ibu/istri sibuk menjaga, mendidik dan membersarkan anaknya. Selain tugas sebagai ibu, perempuan juga memiliki tugas sebagai seorang istri. Dua pekerjaan yang tidak mudah, kadang bahkan perempuan tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Untuk menghormati hal tersebut maka diberikan beberapa kekuasaan pada perempuan.
Dua alasan diatas hanya sebuah dugaan. Hingga saat ini belum alasan yang pasti kenapa sistem kekerabatan materilineal muncul di permukaan bumi ini. Bahkan saat penulis bertanya pada orang-orang yang berpengaruh di Minangkabau dan para tetua-tetua, mereka tidak dapat memberikan alasan secara pasti atau sejarah mengapa masyarakat Minangkabau menggunakan sistem kekerabatan matrilineal. Mereka juga hanya menduga dan menerka-nerka. 

Namun tidak ada salahnya untuk belajar dari suku-suku ini. Salah satu pelajaran yang bisa diambil yaitu, perempuan memiliki posisi atau fungsi tersendiri dalam kehidupan. Hal inilah menjadi salah satu alasan kenapa laki-laki tidak memandang rendah perempuan. Bukan karena perempuan adalah penguasa atau pemimpin aturan mereka, tetapi mereka karena laki-laki dan perempuan memiliki fungsi dan tugas masing-masin.


Friday, 12 May 2017

Kesetaraan Gender dan Budaya Materilineal Di Minangkabau









Dewasa ini banyak isu-isu yang kita dengar tentang pemberitaan yang tidak layak mengenai perempuan. Mulai dari kekerasan seksual, kekerasan fisik, perdagangan perempuan dan lain sebagainya. Salah sati penyebab munculnya isu-isu tersebut salah satunya adalah lemahnya fisik perempuan jika dibandingkan dengan laku-laki. Perempuan selalu dianggap remeh atau di nomor duakan. Akan tetapi perempuan memiliki perenan penting yang juga tak kalah dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, perempuan juga memiliki kekuatan dan keberanian yang tersimpan dalam dirinya.

Masalah gender ini tidak hanya terjadi di negara-negara miskin. Negara-negara maju di benua Eropa dan Amerika juga mengalami hal ini. Indonesia juga tidak luput dari permasalahan ini. Bisa dikatakan masalah kesetaraan gender melanda seluruh negara di bumi ini. Banyak berita-berita yang merugi pihak perempuan. Bagi beberapa laki-laki beranggapan bahwa peremouan hanya berguna untuk melanjutkan keturunan dan melayani dirinya. Bahkan ada suami yang memperlakukan istrinya sebagai pembantu rumah tangga. Tetai apakah fungsi dan keberadaan perempuan hanya sebatas itu?



Sementara dunia sibuk dengan permasalahan gender, dibeberapa wilayah malah sebaliknya. Bahkan di daerah-daerah tertentu menjadi perempuan sebagai penguasa. Adapun kelompok masyarakat yang tidak ambil pusing dengan masalah gender diantaranya, Suku Babemba di India, Suku Nyana di Afrika, Suku Iroquois di Amerika, Suku Negeri Sembilan di Malaysia dan Suku Minangkabau di Indonesia. Suku-suku ini tidak pernah mempermasalahkan kesetaraan gender. Kenapa?


Sebagai contoh adalah adalah suku Minangkabau di Sumatera Barat. Siapa yang tidak tahu tentang orang Minang atau dikenal juga dengan orang Padang. Yang membuat suku ini menjadi unik salah satunya adalah sistem kekerabatan yang dianutnya. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang menganut sistem kekerabatan patrilineal, masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. 

Sistem kekerabatan matrilineal merupakan sistem kekerabatan dimana garis keturunannya diambil dari garis perempuan atau ibu. Ibu memiliki peranan penting dalam keluarga, namun kepala keluarga tetaplah laki-laki atau ayah. Menafkahi keluarga tetaplah kewajiban ayah/suami. Masyarakat Minangkabau masih dipimpin oleh laki-laki atau biasa dikenal dengan sebutan Datuk atau Panghulu. Hanya hal-hal tertentu saja yang dikuasi atau dilakukan oleh perempuan.

Keunikan lainnya adalah di acarapernikahan. di bebeapa wilayah Minangkabau sebelum acara pernikahan ada istilah yang namanya "pitih panjapuik". Istilah ini bisa dikatakan sama dengan uang hantaran atau jujuran. Perbedaannya terlatak, jika uang hantaran di berikan oleh laki-laki kepada perempuan namun pitih panjapuik diberikan oleh pihak perempuan kepada laki-laki. Uang ini biasanya digunakan untuk membeli kebutuhan dapur atau kamar. Sedangkan mahar pernikahan tetap dibayarkan oleh pihak laki-laki. Bukan berasal dari pitih panjapuik tersebut.



Wednesday, 10 May 2017

Alat Pembuat Kain Songket




Songket merupakan kain tenun khas Sumatera Barat. Membuat kain songket tidak banyak berbeda dengan cara membuat kaintenun lainnya di Indonesia. Alat yang digunakan untuk membuat kain songket adalah "Panta". Sebuah alat yang terbuat dari kayu dan bambu. Ukuran panta biasanya 2m x 1,5m. Umumnya songket di Minangkabau di bua oleh perempuan.

Adapun bagian-bagian dari panta adalah sebagai berikut:
1. Gulungan.
    Gulungan merupakan alat yang digunakan untuk menggulung benang dasar dari tenunan.

2. Turak.
    Turak adalah alat yang digunakan untuk memasukan benang lain ke benang dasar. Benang inilah yang 
    akan befungsi untuk menentukan warna motif kain.

3. Sisia.
    Sisia merupakan alat yang digunakan untuk merentangkan benang tenunan. Selain itu sisia juga berfungsi 
    untuk menperoleh benang tenunan yang akan di tenun.

4. Pancukie.
   Sesuai dengan namanya pancukie merupakan alat yang digunakan untuk mencukia benang tenun untuk 
   membuat motif kain tenun.

5. Pamedang
    Pamedang adalah alat yang titempatkan dan didepannya diberi 2 buah tiang. Tiang ini berfungsi untuk
    menyangga kayu paso. Alat ini merupakan tempat khusus untuk menenun songket.

6. Ani.
    Ani adalah salah satu alat yang berfungsi sebagai alat tambahan untuk menggulung benang.

7. Kayi Paso.
    Kayu Paso merupakan kayu yang digunakan untuk menggulung hasil tenunan.

8. Palapah.
   Palapah adalah alat yang digunakan untuk meregangkan benang latar.


Monday, 8 May 2017

Kain Songket "Kain Tenun Khas Sumatera Barat"


 Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri. Salah satunya adalah kain tradisional.
Di Minangkabau atau Sumatera Barat yang menjadi ciri chas kainnya adalah "Songket". Songket yang terkenal di Sumatera Barat adalah "Songket Pandai Sikek dan Songket Silungkan". Nama ke dua
songket ini diambil dari nama daerah atautempat kain ini berasal yaitu Pandai Sikek di Tanah Datar dan Silungkan di Sawahlunto.

Perbedaan songkat khan Minangkabau dengan songket tradisional lainnya terletak pada motif dan coraknya.
Motif songket tradisional yang terkenal adalah " Cukie Kaluak Paku dan Cukie Pucuk Rabuang". Motif
ini terbilang sudah sangat lama. Cukie pucuk paku berbentuk sepi pucuk paku yang bergelung-gelung. Sedangkan cukei pucuk rabuang berbentuk segitiga. Perbedaan antara songket pandai sikek dengan songket
silungkang terletak pada motirnya. Songket silungkang terlihat lebih moderen.



Saat ini songket dipakai pada acara-acara tertentu seperti acara perkawinan, upacara adat dan acara-acara resmi lainnya. Songket tidak hanya dipakai oleh kaum wanita saja. Pada waktu tertentu songket juga terlihat di pakai oleh kaum laki-laki. Hanya cara pemakainnya saja yang berbeda. Sekarang ini, kain songket juga telah dikombinasi dengan kain-kain lainnya sehingga menghasilkan pakaian yang bagus. Untuk mendapatkan songket mudah ditemukan di Padang panjang, Bukitting, Payahkumbuh dan Sawahlunto.

Saturday, 6 May 2017

Daerah Darek dan Daerah Rantau di Minangkabau





Orang Minang mengenal istilah "darek". Banyak orang bahkan orang minang sendiri tidak tahu apa itu darek. Darek merupakan suatu daerah atau wilayah di Minangkabau. Daerah ini merupakan daerah inti pada masa kejayaan Pagaruyung. Darek terdiri dari "3 luhak" yang lebih dikenal dengan "Luhak Nan Tigo". Adapun daerahnya adalah Luhak Nan Datar (sekarang lebih dikenal dengan Luhak Tanah Datar), Luhak Agam dan Luhak Limopuluah.

Ada yang unik dari ketiga luhak ini. Disetiap luhak di pimpin oleh seorang penghulu yang mengepalai masing-masing suku yang berada dalam luhak tersebut. Jadi akan ada beberapa pemimpin (penghulu) dalam satu luhak. Ketiga luhak ini pemerintahannya akan berpusat di Pagaruyung. Jika ada permasalahan maka raja Pagaruyung akan bertindak sebagai penengah. Sementara itu, pemimpin atau penghulu akan di pilih oleh suku masing-masing.

Selain daerah daerek juga ada istilah "daerah rantau". Jika kamu berpikir daearah rantau minangkabau adalah jawa atau pulau lainnya, anda salah besar. Dulu daerah rantau adalah daerah yang pesisir bagian barat. Selain bagian barat juga berada di daerah Jambi, Riau dan sekitarnya. Fungsi daerah rantau sendiri pada masa Pagaruyuang adalah untuk mencari kehidupan seperti berniaga. Daerah rantau di Minangkabau terkenal dengan Rantau Nan Duo. Rantau nan duo yaitu daerah rantau hilia yang merupakan kawasan pesisir timur seperti Pariaman dan sekitarnya termasuk sebagian kota Padang dan rantau di mudiak meliputi kawasan pesisir barat seperti pesisir selatan dan sekitarnya.



Baca juga: Sistem Kekerabatan Matrilineal Di Minangkabau  dan Uniknya Adat dan Budaya Pernikahan Di Minangkabau

Daerah darek memiliki daerah rantu tersendiri. Luhak tanah datar memiliki daerah rantau ke Jambi dan sekitarnya. Luhak agam memiliki daerah rantau ke Pasaman, Pariaman dan sekitarnya. Dan luhak limopoluah memiliki daerah rantau ke Riau dan sikitarnya. Umumnya daerah rantau ini merupakan daerah yang berhasil ditaklukan oleh kerajaan Pagaruyuang.


Sekarang ini orang Minang masih menggunakan istilah darek untuk menyebutkan asal mereka. Istilah ini masih dipakai tertama oleh mereka yang berasal dari Luhak nan Tigo.


Thursday, 4 May 2017

Harta Pusaka Di Minangkabau dan Pendapat Ulama



Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilinear. Sistem ini mengambil keturunan dari garis ibu/perempuan. Sistem ini juga berlaku untuk harta pusaka di Minangkabau. Harta pusaka di wariskan kepada anak perempuan. Mengenai pembagian harta pusaka ini sudah dari dulu menjadi perdepatan oleh ulama di Minangkabau. Perbendaan ini terjadi karena dalam islam telah dijelaskan pembagian harta. Islam telah mengatur tata cara pembagian warisan. Lalu bagaimana dengan sebenarnya tentang harta pusaka di Minangkabau sekarang ini?

Sekarang ini di Minangkabau ada yang namanya harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Ada juga yang membagi dalam tiga bentuk yaitu harta pusaka tinggi, harta pusaka renda dan harta pencarian. Harta pusaka tinggi merupaka harta pusaka yang diwariskan secara turun temurun dari garis keturunan ibu/perempuan. Banyak diantaranya harta pusaka tinggi tidak diketahui bagaimana asal muasanya atau bagaimana dan siapa yang memperolehnya. Harta ini kadang kala ada yang dimiliki oleh kaun atau suku. Dalam ketentuan adat di Minangkabau harta pusaka tinggi tidak boleh diperjual belikan. Jika memang ada keadaan terdesak, harta pusaka tinggi hanya boleh digadaikan. Untuk mengadaikannya harta ini tidak mudah. Perlu musyawarah diantara kaum petinggi adat dalam kaum. Petinggi kaum di Minangkabau adalah laki-laki atau mamak. Harta pusaka tinggi biasanya berupa, rumah gadang, sawah, ladang, kolan dan hutan. Pemilikinya hanya memiliki hak pakai dan pemakaiannya di atur oleh datuk/penghulu yang menjadi kepala kaum. Pemakaiannya tidak hanya pihak perempuan saja tetapi pihak laki-laki juga dapat mengunakannya.

Harta pusaka rendah adalah harta pusaka yang diperoleh dari hasil kerja sepasang suami istri. Perbedaan antara harta pusaka rendah dan harta pencarian tidak terlalu berbeda. Keduanya merupakan harta yang diperoleh seseorang baik oleh sepasang suami istri maupun oleh individu. Untuk ahli waris harta ini tidak hanya diwariskan kepada perumpuan saja, tetapi juga kepada semua anak, saudara dan orang tua dari pemiliki harta. Tidak ada yang mempermasalahkan tentang harta pusaka rendah atau harta pencarian ini. Sekarang ini, pembagian harta ini sudah sesuai dengan hukum islam.




https://pesona-minangkabau.blogspot.co.id/2017/05/harta-pusaka-di-minangkabau-dan_2.html

Tuesday, 2 May 2017

Harta Pusaka Di Minangkabau dan Pendapat Ulama


Kontrovesi tentang harta pusaka di Minangkabaumasihberlanjut hingga sekarang. Ada beberapa ulama berpendapat kalau masalah harta pusaka ini tidak sesuia dengan islam. Sebagaian ulama berpendapat boleh saja. Ulama yang paling keras menentang tentang harta pusaka di Minangkabau adalah salah satu khtib Mesjid Haram di Makkah. Beliau juga merupakan imam pertama mensjid harap yang berasal dari luar Arab dan berasal dari Minangkabau. Karena hal ini juga menjadi salah satu alasan ia tidak kembali ke Sumatera Barat.

Beberapa ulan memperbolehkan hal ini. Khusus untuk harta pusaka tinggi beberapa ulama menyatakan bahwa harta pusaka tinggi ini termasuk ke dalam wakaf. Pihak keluarga yang menerima harta ini hanya dapat menanfaatkan saja dan tidak bileh untuk diperjual belikan. Harta pusaka tinggi hakekatnya merupakan amah dari leluhur. Pemilik aslinya tidak dapat diketahui secara pasti. Harta ini terus diwariskan secara turun temurun dari garis ibu/perempuan. 

Sekarang ini banyak pihak laki-laki yang menuntut bagian dalam harta pusaka tinggi. Setelah mendapatkan bagiannya, mereka menjualnya. Sebagaimana yang telah di jelaskan sebelumnya. beberapa ulama neyebutkan bahwa harta pusaka tinggi tidak boleh untuk diperjual belikan. Hal ini sesuai dengan hukum adat Minangkabau bahawa harta pusaka tinggi juga tidak dapat diperjual belikan.

Bagaimana dengan pendapat anda. Baik agama maupun adat melarang harta pusaka tinggi untuk diperjual belikan. Dalam pemanfaatannya, laki-laki tidak dilarang untuk menanfaatkan. Pihak wanita pun juga memiliki hak pakai saja bukan hak milik.

Silahkan beri komentarnya.

Baca juga: Sistem Kekerabatan Matrilineal Di Minangkabau


https://pesona-minangkabau.blogspot.co.id/2017/05/harta-pusaka-di-minangkabau-dan.html

Sunday, 30 April 2017

Runtuhnya Kerajaan Pagaruyung



Pagaruyung meruakan kerajaan terbesar di Minangkabau. Kerajaan ini merupakan asal lahirnya adat dan budaya Minangkabau yang memiliki sejarah dan cerita yang panajang. Sejarah menyebutkan kerajaan ini didirikan oleh Aditiawarman. Pusat kerjaan terletak di daerah Batusangkar, kabupaten Tanah Datar. Kerejaan Pagaruyung pernah menaklukan beberapa kerajaan besar di pulau Sumatera, pengaruhnya bahkan sampai ke negara tentangg seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.


Tidak banyak yang menceritakan bagaimana runtuhnya kerajaan Pagaruyung. Dalam sejarah disebutkan kerajaan Pagaruyung runtuh saat perang Padri. Perang Padri merupakan salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Sumatera Barat. Perang ini terjadi antara kaum adat dengan kaum padri (agam). Kaum adat meminta pertolongan kapada pemerintahan Hindia Belanda. Namun pada akhirnya kaum adat dan kaum agama bersatu untuk melawan kaum penjajah. Dimasa inilah, kerajaaan pagaruyung kehilangan kekuasaannya. 

Konflik antara kaun ada dan kaum agama (padri) pada awal abad ke-19. Kaum adat tidak mau menerima perubahan yang dibawa oleh kaum. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama mereka lakukan banyak yang bertentangan dengan agama islam yang dibawa kaum padri. Perundingan telah seringkali dilakukan dan tidak pernah menemukan kata sepakat. Pada saat yang bersamaan beberapa wilayah di kerajaan Paaruyung mulai berejolak dari melepaskan diri dari kerajaan. Keadaan ini membuat kerajaan Pagaruyung menjadi terdesak dan kewalahan.

Baca juga Kerajan-kerajaan yang pernah ada Di Minangkabau Part1 dan Kerajan-kerajaan yang pernah ada Di Minankabau Part2


Tahun 1815 Tuanku Pasaman yang memimpin kaum Padri menyerang Pagaruyung. Akibatnya beberapa petinggi kerajaan Pagaruyung terpaksa melarikan diri ke beberapa wilayah untuk menyelamatkan diri. Karena terdesak, akhirnya kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada Belanda. Perjanjian antara Pagaruyung dan Belanda pun dibuat. Dengan liciknya dengan perjanjian yang dibuat, akhirnya Belanda dapat menguasai kerajaan Pagaruyung. 

Melihat keadaan ini, menimbulkan dorongan bagi kaum adat, petinggi kerajaan Pagaruyung dan kaum agama untuk menyatukan kekuatan. Kelicikan Belanda menyadarkan mereka untuk melawan Belanda. Tahun 1822 Sultan Tangkal Alam (pemimpin terakhir Pagaruyung) ditangkap oleh Belanda dengan tuduhan penghiatan kepada Belanda. Ia dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) dan meningga dan dikuburkan di perkuburan Mangga Dua. Petinggi Pagaruyung yang selamat mencoba melakukan negosiasi dengan Belanda, tetapi Belanda menolaknya. 

Sekarang Istana Pagaruyung di jaga oleh keturunan Pagaruyung. Istana sekarang sudah beberapa kali di pindahakan dan di renovasi karena kebakaran.

 

 

Friday, 28 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

3. Hj. Rasunan Said




















Nama Lengkap : Hajjah Rangkayo Rasuna Said
Tempat Lahir    : Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat
Tanggal Lahir   : Kamis, 15 September 1910
Meninggal        : Jakarta, 2 November 1965

Rasuna Said besal dari keluarga bangsawan di Minangkabau. Ayahnya bernama Muhamad Said, merupakan seorang sudagar kaya dan juga seorang aktivis penggerak di masanya. Hal tersebut menjadi asalan ia mendapatkan pendidikan yang baik.

Rasunan Said bersekolah di pesantren Ar-Rasyidiyah dan ia menjadi satu-satunya santri wanita. melanjutkannya ke Diniyah Putri Padang Panjang. Disana ini bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Ia sempat menjadi guru di Diniyah Putri Padang Panjang. Karena memiliki pandangan yang berbeda tentang perempuan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.

Selain menjadi seorang guru, ia juga merupakan seorang jurnalis. Tulisannya terkenal tajam dan dianggap radikal oleh pemerintahan Belanda dan mendapatakn pengawasan ketat dari polisi. Oleh karena itu akhirnya ia memutuskan untuk pidah ke Medan melanjutkan aktivitas menulisnya dengan menggunkan nama samaran "Selaguri".Selain itu, di Medan ia juga mendirikan perguruan khusus untuk putri.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasunan Sain pernah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakya Repoblik Insonesia Serikat (DPR RIS) dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Sebelumnya ia pernah duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. 


Rahmah El Yunusiya

 

Baca juga:  PAHLAWAN-PAHLAWAN YANG BERASAL DARI SUMATERA BARAT



Wednesday, 26 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

4. Rahmah El Yunusiya


















Nama             : Rahmah El Yunusiya
Tanggal Lahir: 29 Desember 1900
Tempat Lahir : Bukik Surungan, Padang Panjang, Hindia Belanda
Meninggal      :
26 Februari 1969 
Makam           : Padang Panjang


Lahir dari keluarga terpandang Syekh Muhammad Yunus (ayah) dan Rafi'ah (ibu). Ayahnya merupakan seorang hakim dan ilmu falak di daerah Pandai Sikek. Kakeknya merupakan seorang ulama besar dan terkenal di Minangkabau. I merupakan wanita pertama yang mendapat gelar “Syaikhah” dari Universitas al-Azhar, Mesir pada 1957.

Dengan latar belakang keluarga memiliki ilmu agama yang baik dan pendidikan di al-Azhar Mesir. Ia merintis sebah sekolah agama untuk putri yang bernama "madrasah diniyyah lil banat/Diniyyah School Puteri" yang di dirikannya di pandang Panjang. Awalnya, ia memanfaatkan sebuah ruang di mesjid Pasar Usang untuk dijadikan tempat belajar. Ia terus mengembangkan dan akhirnya sekolah ini tidak hanya menerima murid dari Sumatera Barat saja, bahkan ada murid yang datang dari Singapuran dan Malaysia.

Pada penjajahan Jepang, Rahmah memimpin Hahanokai di Padangpanjang untuk membantu perwira Giyugun. Selain itu ia juga memelopori berdirinya TKR di Padang Panjang. Ia bersama murid-muridnya juga ikut membantu dalam menyidakan makanan dan obat-obatan bagi pejuang yang terluka.

Dengan sistem dan program pendidikan yang baik, akhirnya sekolah ini menjadi inspirasi bagi Universitas Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Lil Banat (fakultas yang dikhususkan untuk perempuan). Gelar “Syaikhah” diberikan kepadanya saat ia mengunjung Mesir pada tahun 1957. Sedangkan pemerintahan Indonesia menganugrahkan Bintang Mahaputra Adipradhana tahun 2013. Ia merupakan pelopor pendidikan Islam di Indonesia. 


Monday, 24 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

2. Roehana Koeddoes


















Nama              : Roehana Koeddoes  
Tanggal Lahir : 20 Desember 1884
Tempat Lahir  : Manggopoh, Agam, Hindia Belanda
Meninggal      : 17 Agustus 1972
Makam           :
Jakarta


Lahir dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (ayah) dan Kiam (ibu). Ia merupakan kakak tiri dari Perdanan Mentri Pertama Indonesia Soetan Sjahrir. Selain itu ia juga merupakan bibi atau "Mak Tuo" (sebutan orang Minang) dari penyair terkenal Indonesia yaitu Chairil Anwar dan juga sepupu dari pahlawan yang juga terkenal di Indonesia yaitu H. Agus Salam.

Roehana tidak mendapatkan pendidikan recara formal. Tetapi ia merupakan perempuan yang rajin dan pintar dalam belajar. Pengetahuan ia dapat dari ayah dan beberapa kenal ayanhnya yang merupakan orang Belanda. Berbekal dari pengatahuan yang ia peroleh tersebut ia mendirikan sekolah khusus perempuan yang bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Pendirian sekolah ini juga mendapat dukungan dari suaminya yang merupakan seorang notaris. 

Roehana Koeddoes merupakan pendiri surat kabar wanita pertama di Indonesia. ia juga seorang wartawan wanita pertama di Indonesia. Perjuangan yang dilakukannya lebih banyak untuk wanita. Tetapiia tidak menuntuk untuk menyamakan antara wanita dengan laki-laki. Ia lebih mengutakan fungsi wanita dan tidak melupakan kodranya sebagai wanita. Baginya wanita juga berhak memiliki ilmu pengetahuan dan mengembangkan keterampilannya. Pengetahuan dan keterampilan ini akan berguna nantinya mendidik anak-anak dan menjaga keharmonisan keluarga nantinya. 

Pergerakan-pergerakan yang dilakukan Roehana Koeddoes lebih banyak berbentuk tulisan. Banyak tulisan-tulisannya yang dapat membangkitkan semangat juang. Tulisannya dibidang polilitik menjadi sumber kekuatan untuk pemuda melawan penjajahan. Pergerakkannya di bidang pendidikan dan jurnalis, mengispirasi pemerintah untuk memberikan anugerah Bintang Jasa Utama kepadanya.


   
 Hj. Rasunan Said

Saturday, 22 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat



1. Siti Manggopoh

 

















Nama             : Siti Manggipoh
Tanggal Lahir: Mei 1880
Tempat Lahir : Koto Gadang, Agam, Hindia Belanda
Meninggal      : 22 Agustus 1965
Makam           :
Lubuk Basung, Agam


Hari dari pasangan Rasyid Bagindo Magek Sutan Tariak (ayah) dan Mak Kipah (ibu) di daerah Manggopoh kabupaten Agam. Anak bungsu dari enam bersaudara. Dengan julukan "Singa Betina dari manggopoh" dan biasanya sehari-hari dikenal dengan "Madeh Siti".

Perlawanan yang palinng terkenal yang dipimpin oleh Siti Manggopoh adalah Perang Belasting dan Gerakan Kemajuan Sumatera Barat. Perang belasting merupakan perlawanan terhadap sistem pajak uang yang diterapkan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Menurut Siti kebijakan belasting yang diterapka oleh pemerintahan Hidia Belanda tidak sesuai dengan adat dan budaya Mingkabau.

Puncak perlawanan terjadi pada 16 Juni 1908. Penyerbuan besar-besaran dilakukan oleh Siti bersama suaminya Rasyd dan pasukannya. Penyerbuan ini membuat Belanda kewaladan sehingga meminta bantuan dari luar daerah. Sehari setelah penyerang tersebut Belanda langsung mencari Siti dan suaminya untuk ditangkap. Penangkapan Siti dan suaminya berhasil setelah 17 hari pencarian. 

Setelah berhasil ditangkap Siti dan suaminya langsung dipenjarakan di penjara Lubuk Basung secara terpisah. Siti sendiri sempat di pindahkan ke penjara di Pariaman. Pengadilan Belanda menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi Siti. Karena sesuatu hal hukuman itu dibatalkan dan akhirnya Siti di buang ke Manado dan suaminya ke Tondano. Setelah kemerdekaan Siti kembali kekampungnya dan mendengar kabar perjuangan Siti pemerintah memberikan bantuan serta penghargaan bagi wanita satu ini.

Siti Manggopoh sempat menikmati suasana kemerdekaan di kampung halamannya. Walaupun ia berjuang untuk negaranya tetapi rasa keibuannya tetap ada. Ia sempat mengalami pergolatan batin ketika henda menyerbu pasukan Belanda. Pilihan antara anak dan bangsanya, merupakan pilihan sulit banya. Dengan pengertian sang anak akhirnya ia berhasil melewatkan kegundahan hatinya tersebut dan menyerbu pasukan Belanda.

 
Roehana Koeddoes


Baca juga:  PAHLAWAN-PAHLAWAN YANG BERASAL DARI SUMATERA BARAT