Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, 16 December 2018

Sejarah Lobang Japang

Bukittinggi tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Kota satu ini menyimpan banyak sejarah. Salah satunya adalah Bukittinggi pernah menjadi Ibu Kota Indonesia. Begitu banyak bukti sejarah yang bisa ditemukan. Bahkan disetiap sudut kota Bukittinggi memiliki cerita sendiri. 

Lobang Japang merupakan salah bukti sejarah kejamnya penjajahan. Bangun ini dibangun pada masa penjajahan Jepang. Bangunan sepanjang 1400 m ini dibangun dengan menggunakan puluhan ribu pekerja paksa (romusa) dari berbagai wilayah di Indonesia. Tidak ada pekerja yang berasal dari Bukittingi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaannya. Awalnya bangunan ini dibangun sebagai sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang oleh tentera Jepang. Lobang Jepang memiliki beberapa ruang yaitu ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara dan gudang senjata.



Lobang Jepang yang terletak di Taman Panorama sekaranng dibangun atas instruksi Letjen Moritake Tanabe. Konstruksi bangunan dibuat sangat kuat. Konon  lubang japang bisa menahan letusan bom seberat 500kg. Kekuatannya juga teruji pada September 2009. Gempa yang melanda Sumatera Barat tidak banyak merusak struktur terowongan.

Setelah kemerdekaan, lobang japang ditemukan pertama kalinya tahun 1950. Tahun 1984 lobang japang di buka untuk umum. Renovasi dilakukan agar lobang jepang mudah untuk masuk. Pertama kali ditemukan pintu utama yang berada di teman panorama yang selebar 20cm. Walaupun lobang japang sekarang banyak mengalami perobahan, akan tetapi lobang masih banyak menyimpan sejarah kelam untuk Indonesia.



Jika anda ingin mengunjungi lobang japang tak perlu khawatir tersesat. Sekarang pemandu lobang japang akan ditemui di taman panorama. Pemandu akan memandu kita untuk mengetahui terowongan yang ada didalamnya. Sekarang ini ada 21 terowongan di dalam bunker, yang dulunya digunakan untuk menyimpan amunisi, tempat tinggal, ruang pertemuan, ruang tahanan, ruang makan, dapur, ruang sidang, ruang penyiksaan, ruang mata-mata, ruang penyergapan, dan pintu gerbang untuk melarikan diri.



→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→→

Artikel lainnya

  1. Sejarah Kota Bukittinggi
  2. Cerita dari Gunung Padang Sumatera Barat
  3. Sejarah Kereta Api Sawahlunto
  4. Kumpulan Foto-foto Zaman Dulu Part-2
  5. Kumpulan Foto-foto Zaman Dulu Part-1 
  6. Asal-usul Minangkabau
  7. Sejarah Kota Padang Asal Muasal Kota Padang
  8. Bukti Sejarah Benteng Fort De Kock
  9. Asal Muasal Ngarai Sianok
  10. Lobang Japang dan Sejarahnya
  11. Sejarah Museum Aditiwarman "Tugu yang Terlupakan"
  12. Pelabuhan Teluk Bayur
  13. Janjang 40 Bukittinggi

Wednesday, 17 October 2018

SI GULA MERAH DARI GUNUNG MERAPI bagian 1



Nagari Padang Laweh terletak di lerang kaki gunung merapi, Agam Sumatera Barat. Nagari atau setinggat dengan desa ini memiliki jumlah penduduk yang banyak. Letaknya yang tidak jauh dari kota Bukittinggi, keadaan ini membuat perekonomiaan masyarakat setempat terbilang cukup baik. Apalagi ditengah-tengahnya terletak jalan artenatif Padang-Payahkumbuh bahkan Padang-Pekanbaru. Terletak di lereng bukit merapi menjadikan tanah di sekitar subur. Hasil kebun masyarakat disini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tidak hanya untuk kawasan Sumatera Barat saja, tetapi juga untuk Medan, Pakanbaru dan provinsi lainya. Bisa dikatakan daerah ini merupakan salah satu pemasok kebutuhan sayur dan bahan makanan lainnya di Sumatera Barat.  

Mata pencarian masyarakat setempat tidak hanya dari hasil perkebunan tersebut. Selain bercocok taman, masyarakat  Nagari Padang Laweh juga mendapatkan penghasil dari konveksi pakaian. Letaknya yang tidak jauh dari Pasar Aur Kuning Bukitting menjadikan memjahit baju sebagai penghasilan lain dari bercocok tanam. Hasil karya masyarakat disini tidak hanya sebatas baju dan jilbab saja, ada juga tas dan barang kerajinan lainnya. Salah satu hasil kerajinan dari menjahit yang terkenal bahkan sampai keluar negeri yaitu Mukenah Karancang yang hargannya sampai jutaan rupian. Pembuatan mukenah ini menyebar di sekitar Bukittinggi dan Agam, tidak terkecuali Nagari Padang Laweh. 

Kota Bukittinggi merupakan salah satu sentral industri dan pusat perekonomian di Sumatera Barat. Tidak hanya terkenal dengan makanannya, di kota ini merupakan pemasok bahan-bahan kebutuhan dari segala hal, mulai dari bahan makanan, pakaian, wisata dan lain sebagainya. Keadaan ini berimbas ke daerah sekitarnya yaitu kabupaten Agam. Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan kota Bukittinggi berdampak langsung pada mata pencarian dan perekonomian masyarakatnya. Tidak hanya Nagari Padang Laweh, nagari lainnya seperti Canduang, Kamang, Kubang Putih dan lainnya ikut menyumbangkan hasil daerahnya. Walaupun begitu beberapa Nagari tertentu memiliki hasil khasnya tersendiri yang membuat nagari tersebut menjadi lebih dikenal. Salah satunya adalah Padang Laweh yang terkenal dengan penghasil Gula Merah se Sumatera Barat.



2

Tuesday, 14 November 2017

Sejarah Lembah Anai



Bagi orang Sumatera Barat Lembah Anai bukan suatu tempat yang asing, apalagi bagi orang minang yang berasal dari Padang Panjang, Bukittinggi, Payahkumbuh dan sekitarnya. Lembah Anai merupakan tempat yang sangat kental bagi mereka. Lembah yang berada dipinggir jalan utama Padang-Bukittinggi-Payahkumbuh ini merupakan salah satu objek wisata di Sumatera Barat. Walaupun sudah sering melihatnya tapi mereka tidak pernah bosan memandangi air terjun yang ada di Lembah ini. 


 

Dibalik keindahannya Lembah Anai memnyimpan sejarah terutama bagi Sumatera Barat. Dia menjadi saksi sejarah baik pada masa penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang. Salah satu skaksi bisu sejaran yang ada di lembah ini ada Rel Kereta api yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Rel ini juga merupakan sebagai penghubung Kota Padang - Bukittinggi - Payahkumbuh. Tokoh Proklamator Muhammat Hatta menggunakan jalur ini jika Beliau ingin ke Bukittinggi dari kota Padang. Belum ditemukan secara pasti kapan pertama kalinya rel kereta ini dibuat.

Tidak hanya sejarah masa penjajahan. Rel kereta ini juga menjadi saksi bisu beberapa peristiwa alam yang terjadi. Tak hitung berapa kali banjir dan lonsor yang terjadi di Lembah Anai ini. Salah satu bencana alam yang paling besar adalah Gempa Bumi yang terjadi pada 28 Juni 1962. Gempa ini cukup memberikan akibat yang besar bagi Lembah Anai dan juga rel kereta api saat itu. Gempa sebesar 7,8 SR berpusat di Padang panjang. Peristiwa gempa ini hanya disampaikan dari mulut ke mulut sampai saat ini.



Sejarah Lembah Anai mengingatkan akan beberapa tempat sejarah di Sumatera Barat yang terlupakan. Beberapa objek wisata di Sumatetra Barat merupakan tempat-tempat bersejarah. Begitu banyak cerita yang bisa kita eksplor dari tempat lain baik dari segi sejarah maupun keindahan alamnya.



Monday, 2 October 2017

Pesona jenjang 40 Bukittinggi


Mungkin banyak yang tidak mengenal objek wisata yang satu ini. Janjang 40, yang terletak di Bukittinggi merupakan penghubung antara pasa ateh (Pasar Atas) dengan pasa bawah (Pasar Bawah.  Letaknya tidak jauh dari Jam Gadang. Tepatnya dipalantaran pakir di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Lokasi ini cocok bagi anda yang suka selfie-selfie dengan latar kota Bukittinggi.

Kenapa dinamakan "Janjang 40", karena jumlah anak tangga yang berada paling atas berjumlah 40. Pada bagian atas janjang ini sedikit curam, tapi janjang bagian bawah cukup lebar dan landai. Sebenarnya jumlah anak tangga dari atas sampai pasa bawa berjumlah 100 lebih. Janjang ini merupakan salah satu bukti sejarah. Dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1908. Untuk menjaga kelestariannya, pemerintah telah melakukan perbaikan dan tampak seperti sekarang.

Monday, 17 July 2017

Badia-Badia "Permainan Tadisional Anak Nagari yang Terus Dimanainkan Sampai Sekarang"


Di era digital sekarang ini, permainan umunya juga menggunakan teknologi canggih. Anak-anak zaman sekarang lebih suka bermain permainan yang moderen seperti yang ada di smartphone. Bahkan ada beberapa anak yang tidak lepas bermain dengan teknologi ini. Bahkan keadaan ini menjadi permasalahan yang sulit untuk dihindari oleh para orang tua.

Jika kita menoleh ke masa lalu, ada banyak permainan yang dapat kita kenalkan dan berikan untuk anak-anak. Salah satu permainan tradisonal yang masih banyak kita jumpai saat ini adalah "Badia-Badia". Sampai saat ini permaian ini masih diminati dan disukai oleh anak-anak, tidak hanya anak-anak desa tetapi permainan ini juga masih dimainkan oleh anak-anak di perkotaan.

Permainan ini dapat kita temukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Di Sematera Barat sendiri permainan ini memiliki banyak nama diantaranya badia-badia dan mariam tomong. Badia-badia atau mariam tomong biasa di mainkan di bulan Rmadhan dan menyambut hari raya Idul Fitri. Di waktu, tidak hanya anak kecil yang memainkannya tetapi juga orang dewasa. Untuk membuat badia-badia tidak sulit. Cukup menyediakan sepotong bambu ukuran sedang sepanjang 1 meter. Kemudian diberi lobang dengan ukuran 2x2cm dibagian bawah. Masukan kain perca atau kain yang tidak berguna lalu disiram dengan minyak tanah dan kemudian dibakar. Bunyi yang dihasilkan sangat keras. 

Di Sumatera Barat tepatnya di Nagari Ganggo Hilir, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman Barat, Badia-Badia mendapatkan piagam pernghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia tahun 2017. Rekor ini mengahalakan rekor sebelumnya yang ditorehkan oleh kota Pontianak dengan mariam bambu sebanyak 150 batang. Sedangkan di Nagari Ganggo Hilir, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman Barat dari anak-anak sampai orang dewasa memainkan badia-badia sebanyak 1.821 batang. Dengan begitu kita harus bangga menjadi anak Minang yang dapat melestarikan sekaligus mengenalkan permainan tradisional ini kekhalayak banyak.


Saturday, 17 June 2017

Perjalanan Hidup Buya Hamka Bagian 2


Perjalan Hidup Malik tidak hanya sampai di pulau jawa. Ia kembali ke Minangkabau dengan misi mengembangkan Muhammadiyah ke Minangkabau. Selama diperantau ia banyak nemimba ilmu agama dan cukup disegani oleh Muhammadiyah, namun sesampainya di Minangkabau ia hanya dianggap sebagai tukang pidato bukan ahli agama. Hal ini disebabkan oleh kurang pasnya penggunaan tata letak bahasa, nahwu da sharaf. Kekurang ini dikaitkan karena tidak menyelesaikan pendidikannya di Tawalib.

Ilmu yang diperoleh salam di Jawa ternyata tidak terlalu banyak mengubah padangan orang-orang disekitarnya. Kekecewaannya bertambah saat ia gagal melamar untuk menjadi guru saat Muhammadiyah membuka sekolah di Padang Panjang. Alasannya adalah tidak memiliki ijazah diploma. Dia mencurahkan kegundahan yang dialaminya kepada andungnya. Ia ingin pergi ke Makkah  sendiri.Walaupun terkendala dengan biaya ia tetap ingin pergi. Dengan berjalan kaki dari Maninjau ke Padang dan dari Padang naik kapal. Ia bertemu dengan temannya bernama Isa di pelabuhan Belawan. Isa membarinya sedikit ongkos untuk ke Makkah. Februari 1927 Hamka berangkat haji bersama jemaah haji Indonesia. Selama diperjalanan ia cukup dihormati kerena kepandaiaanya membaca Al-Quran.

Sesampai di Makkah ia bekerja di percetakan Hamid Kurdi, yaitu mertua dari ulama Minangkabau Ahmad Chatib. Selama di Makkah ia benyak membaca dan belajar kita-kita klasik dan buku-buku tentang Islama. Hamkah sempatmemberikan pelajaran agama bagi jemaah haji asal Indonesia. Keinginan Hamka untuk menetap di Makkah batal karena bertemu dengan Agus Salim. Bujukan Agus Salim berhasil membawa Hamka kembali pulang ke tanah air, namu ia tidak pulang ke Padang Panjang. Kapal yang ditumpanginya berhenti di Medan dan ia pun ikut turun di Medan. Disinilah ia memulai karirnya sebagai jurnalis dan juga mengajar.

Hamka kembali ke Padang Panjang setelah gempa bumi meluluh lantahkan rumahnya di Sungai Batang, itupun karena bujukan dari kakak iparnya yang bertemu di Medan. Kepulanganya ke Padang Panjang mengejutkan ayahnya. Ternyata kepergiannya ke Makkah tidak diketahui oleh ayahnya. Ayahnya merasa bersalah dan menerima dirinya apa adanya. Untuk menebus rasa bersalah kepada ayahnya ia menerima permintaan ayahnya dengan menikahi Siti Raham tanggal 5 April 1929. Setelah menikah ia kembali Padang Panjang dan ia menjabat sebagai ketua Muhammadiyah sekaligus sebagai pimpinan sekolah Tablik.


Kembali

Thursday, 15 June 2017

Perjalanan Hidup Buya Hamka



Siapa yang tidak kenal dengan Buya Hamka. Seorang tokoh dan pahlawan Nasional yang telah banyak memberikan pangaruhnya terhadap perjuangan Indonesia. Lahir di Nagari Sungai Batang,Tanjung Raya,Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 17 Februarin 1908 dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah yang disapa dengan Malik. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah yang merupakan seorang ulama yang cukup terkanal dikampunya dan ibu bernama Safiyah yang merupakan istri keduanya.

Kehidupan Malik kecel tidak semulus yang kita bayangkan. Pada usia 12 tahun Malik kecil menyaksikan perceraian kedua orang tuanya. Perceraian ini karena ayahnya merupakan seorang penganut agama yang taat. Sedengakan dipihak keluarga ibunya masih menjalan praktek-praktek adat dan budaya yang kental. Perceraian kedua orang tuanya membuay Malik sempat bolos sekolah. Mengetahui anaknya marah, ayahnyapun memarahinya dan akhirnya kembali masuk sekolah. Mengetahui salah seorang gurunya memiliki tempat penyewaan buku, Malik sering kaempat tersebut dan menghabiskan harinya dengan membaca buku. Ada yang unik dari Malik kecil, setelah membaca habis sebuah buku, ia kembali menuliskannya buku tersebut dalah versi dia sendiri. Hari-harinya pun habis dengan belajar di sekolah, membaca buku dan beajar agam.

Tinggal bersama ayahnya dan jauh dari ibu kandungnya membuat ia rindu akan ibunya. Dengan alasan itulah ia nekat untuk melakukan perjalanan jauh seorang diri ke Maninjau untuk menemui ibunya. Ibunya ternyata sudah menikah lagi. Setelah beberapa hari berlalu, Malik merasa ibunya tidak acuh lagi kepada dirinya. Sementara itu hubungannya dengan ibu tirinya tidak terlalu bagus. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari pergaulan dan belajar randai dan silat untuk mengobati hatinya. Tetapi itu tidak berjalan lama, kemudia ia memutuskan untuk ke Bukittinggi dan Payahkumbuh. Hampir satu tahun ia berkelana untuk mengobati kegundahannya. Melihat ketidakjelasan hidup sang anak, akhirnya sang ayah mengantar Malik yang berusia 14 tahun untuk belajar agama dengan ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Disinilah kehidupan mendirinya dimulai.

Di usia 15 tahun Mali berniat untuk pergi ke pulau jawa. Malik termasuk ke  dalam anak yang suka melakukan perjalanan seorang diri ke tempat-tempat yang jauh. Hal ini dikarenakan perceraian kedua orang tuanya. Karena ini juga ayahnya memberi julukan "Si Bujang Jauh". Kepergiannnya ini tanpa sepengetahuan ayahnya. Ia hanya berpamitan kepada keluarga ibunya di Maninjau. Masalah tidak hanya sampai disitu, masih di Bengkulu ia mendapat cacar. Walaupun masih dalam keadaan sakit ia nekat untuk melanjutkan perjalanan dan sampai ke Nepal. Di Nepal ia bertemu dengan kerabatnya, kurang lebih 2 bulan ia meringkuk kesakitan. Setelah keadaannya sedikit membaik,kerabat tersebut memulangkannya ke Indonesia tepatnya Maninjau. Namau keadaan tidak banyak berubah, malah ia semakin banyak mendapat cemooh karena bekar cacar di tubuhny terlihat jelas.

Tahun 1924 ia kembali melakukan perjalanan ke Jawa dan ketika di Yogyakarta ia bertemu dengan pamannya, Jafar Amrullah. Disinilah ia belajar ilmu tafsir Al-Quran dan mengenal Serikat Islam. Selain itu juga ia belajar ilmu politik dan gerakan-gerakan sosial lainnya. Ia sempat berguru kepada HOS Tjokrominoto dan Suryopranoto. Enam bulan kemudia ia melanjutkan perjalannya ke Pekalongan. Disini ia bertemu dengan ayahnya yang hendak pergi ke Mesir. Bermodal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Malik cukup diperhatikan oleh Muhammadiyah di Yogyakarta. Kegemarannya menulis tetap ia teruskan dan sempat menerbikat beberapa buah buku. Disinilah ia menemukan ketenangan dan jadi dirinya.


Bersambung
 

Tuesday, 13 June 2017

Ahmad Khatib Al-Minangkabawi "Orang Minang yang menjadi Imam Mesjid Haram"


Sumatera Barat merupakan salah satu daerah penghasil ulama terbanyak di Indonesia. Salah satu yang dapat dibanggakan adalah "Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi" seorang guru Islam Indonesia yang cukup terkenal dan disegani. Lahir pada 26 Juni 1860 atau Zulhijah 1276H, di KotoTuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Abdul Lathif Khatib yang juga seorang ulama dan ibu bernama Limbak Urai. Ia mempelajari ilmu agama dan menghafalkan bebepa jus Al-Quaran sudah dari kecil dengan berguru kepada ayahnya. 

Tahun 1287 H, Ahmad kecil dibawa oleh ayahnya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah melaksanakan ibadah haji, ayahnya kembali pulang ke Sumatera Barat, sementara itu Ahmad tinggal di Makkah untuk belajar agama dan melanjutkan hafalan Al-Qurannya. Selama belajar ia termasuk ke dalam murid yang pintar dan teladan serta memiliki kedisiplinan yang tinggi. Tidak hanya ilmu agama yang dipelajarinya tetapi juga ilmu umum lainnya dan juga bahasa Inggris.

Baca juga: Pahlawan-Pahlawan yang Berasal dari Sumatera Barat


Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi merupakan salah seorang imam dan khathib di mesjid Haram. Ia juga merupakan orang pertama yang menjadi imam dan khathip selain orang Arab. Ada dua cerita yang menjadi alasan kenapa ia menjadi imam dan khathib di mesjid Haram. Pertama diceritakan oleh Abdul Jabbar yang menyatakan bahwa ia menjadi imam dan khathib di mesjid Haram karena permintaan Shalih Al Kurdi yang merupakan mertuanya sendiri. Pendapat kedua oleh Hamka yang mengatakan bahwa satu ketika "Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pernah memperbaiki bacaan imam yang salah ketika ia menjadi makmum. Selain bacaan Al-Qurannya yang fasih, pengetahuannya tentang agam juga membuat kagum Syarif Aunur Rafiq yang menjadi imam saat itu mengangkatnya menjadi imam dan khathib Mesjid Haram untuk madzhab Syafi'i.

Selain menjadi imam dan khathib di Mesjid Haram, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi merupakan salah satu ulama yang menentang sistem Matrilinear di Minangkabau. Ia terkenal cukup keras dalam menentang sistem ini. Ia ingin mendamaikan sistem matrilinear dengan hukum warisan yang ada di dalam Al-Quran. Melalui murid-muridnya yang berasal dari Minangkabau yang belajar di Makkah bersamanya, ia berusaha untuk memodifikasi budaya Minangkabau sesuai dengan ajaran islam. Hanya sistem matrilinear yang tidak dapat dimodifikasinya karena banyaknya pertentang diperolehnya dari kaum adat. Dengan alasan ini juga ia tidak ingin kembali ke Ranah Minang. Tidak hanya menentang sistem matrilinear di Minangkabau ia juga juga memberikan kritikan keras terhadap doktrin trinitas Krites yang menurutnya memiliki konsep Tuhan yang ambigu.

Baca juga: Asal-Usul Minangkabau

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi wafat di Makkah pada 9 Jumadil Ula 1334 H. Ia di makamkan di MakkahSelama hidupnya, ia telah menghasilkan banyak karya tulis yang berpengaruh tidak hanya dari segi aga tetapi juga ilmu pengetahuan. Karya-karyanya ini ada yang ditulis dengan bahasa arab dan juga ada yang ditulis dengan bahasa melayu. Karya yang dalam bahasa melayu lebih banyak membahas tentang adat-adat dan budaya yang bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Hal ini ia lakukan sebagai bukti kecintaannya pada tanah kelahirannya Minankabau.



Monday, 5 June 2017

Sejarah Berdirinya Mesjid Raya Ganting


Mesjid Raya Ganting merupakan salah satu mesjid bersejarah di Indonesia. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan mesjid ini berdiri. Dalam buku yang berjudul " Mesjid Bersejarah Di Indonesia" yang ditulis oleh Abdul Baqir Zein, mesjid raya ganting telah berdiri tahun 1700. Awalnya mesjid ini terletak di kaki Gunung Padang. Bangunan mesjid dipindahkan ke tempat sekarang oleh pemerintahan Belanda karena adanya pembuatan jalan ke pelabuhan yang melewati mesjid.

Pendapat yang berbeda terlihat dalam dokumen yang diterbitkan oleh Departemen Agama yang menyatakan bahwamesjid raya gantinng didirikan pada tahun 1790. Bangunan awal mesjid terbuat dari kayu dan atap rumbia. Hal berbeda juga disampaikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang yang menyatakan mesjid raya ganting berdiri tahun 1805 dengan nama awalnya "Mesjid Kampuang Ganting".

Terlepas dari semua pendapat yang berbeda tersebut, pebubahan bangunan mesjid secara besar-besaran dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda tahun 1910. Perubahan ini dilakukan karena Belanda membangun jalan untuk membawa semen di Indarung ke pelabuhan. Pembuatan jalan ini memakai pekarang mesjid. Sebagai kompensasinya, pemerintahan Belanda saat itu, mengembangkan pembangunan mesjid secara bensar-besaran.

Pengembangan yang dilakukan Belandalan diantaranya, perbesaran ruang mesjid, melantai mesjid dengan batu bata, pembangunan bagian depan, pemasangan tegel. Keunikan bangunan mesjid raya ganting merupakan perpaduan antara arsitektur bergaya Belanda, Protugis dan China. Bergaya China karena pembangunan  mesjid pernah dilakukan oleh etnis China, terlihat pada ukiran China yang terdapat di mihrab dan bagian kubah. Selain itu, ditengah-tengah bangunan terdapat sebuah Muzawir yang juga dibangun oleh etis China terlihat dari ukiran yang ada. Muzawir ini dulunya berfungsi sebagai tempat Azan dikumandangkan dan tempat penyambung suara imam sehingga makmu yang dibelakang dapat mengikuti gerakan imam.


Tahun 1967 menara mesjid selesai dibangun. Lantai mesjid yang terbuat dari batu bata diganti dengan keramik. Renovasi lainnya juga dilakukan seperti pembangunan pagar. Sejak berdirinya mesjid raya ganting, tidak hanya untuk kegiatan ibadah. Berbagai kegiatan bahkan kegiatan penting dan bersejarah pernah dilakukan ditempat ini. Pernah sebagai tempat persembunyain persiden pertama RI, pusat markas besar melier pada zaman penjajahan Jepang, tempat perundingan dan sebagainya. Hingga saat ini mesjid ini masih berfungsi dengan baik. Bangunan mesjid juga masih berdiri dengan kokoh dan terus mendapat perawatan baik dari pemerintah maupun dari pihak lainnya.

Tuesday, 30 May 2017

Mesjid Bersejarah "Mesjid Raya Ganting"


Kota Padang memiliki banyak bangunan bersejarah. Sebagai salah satu daerah yang memiliki muslim terbanyak di Indonesia, Padang Sumatera Barat memiliki bangunan sejarah yang bercorak islam. Salah satu bangunan bukti sejarah islam di Sumatera Barat adalah Mesjid Raya Ganting. Mesjid yang hingga saat ini masif berfungsi menjadi salah satu simbol kejayaan islam di Sumatera Barat khususnya Kota Padang.

Berdiri tahun pada tahun 1805, mesjid ini menyimpan tidak hanya sejarah islam di kota Padang tapi juga sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada abat ke-19 presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno pernah mengunsi ke mesjid ini. Pembangunan mesjid ini diprakasai oleh Anggku Gapuak, Angku Syekh Haji Uma dan Angku Syekh Kapalo Koto. Ketiga orang ini merupakan orang yang cukup berpengaruh di masanya. Sedangkan biaya pembangunan mesjid ini diperoleh dari para saudagar dan ulama setempat.

Tidak hanya sebagai bukti sejarah islam dan perjungan di kota Padang, Mesjid Raya Ganting juga menjadi bukti sejarah bencana alam yang pernah menimpa kota Padang. Setidaknya ada tiga bencana gempa besar dan stunami yang pernah terjadi yaitu gempa dan sunami tahun 1833 dan gempa tahun 2005 dan 2009. Di tiga bencana tersebut mesjid ini masih tetap kokoh berdiri hingga sekarang.

Fungsi mesjid tidak hanya sebagai aktivitas ibadah umat islam saja. Selain itu, mesjid ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama islam. Kegiatan wirid juga rutin diadakan. Beberapa pertemuan penting juga pernah dilakaukan di mesjid ini. Salah satunya adalah Pertemuan Para Ulama tahun 1918 untuk membahas langkah-langkah pemurnian kajian islam. Ada juga kegiatan Jambore Nasional pertaman gerakan kepanduan Muhammaddiyah Hizbul Wathan tahun 1932. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, mesjid ini pernah menjadi markas besar wilayah Sumatera Barat dan Tengah dan tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Heiho.
Setelah kemerdekaan, mesjid ini mendapat kehormatan sebagai bukti sejarah. Banyak tokoh-tokoh baik dari Indonesia maupun luarngeri yang mendatangi mesjid ini. Hingga saat ini mesjid Raya Ganting masih berfungsi dengan baik.


Artikel lainnya

  1.  Pacu Kudo
  2. Pahlawan-Pahlawan yang Berasal dari Sumatera Barat 
  3. Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat 
  4. Bangunan Bersejarah Di Sawahlunto 
  5. Asal Usul Randai 
  6. Sejarah Berdirinya Mesjid Raya Ganting 
  7. Sejarah Berdirinya Mesjid Raya Ganting 
  8. Harta Pusaka Di Minangkabau dan Pendapat Ulama 
  9. Runtuhnya Kerajaan Pagaruyung 
  10. Foto-Foto Bangunan Bersejarah Di Kota Padang


Saturday, 6 May 2017

Daerah Darek dan Daerah Rantau di Minangkabau





Orang Minang mengenal istilah "darek". Banyak orang bahkan orang minang sendiri tidak tahu apa itu darek. Darek merupakan suatu daerah atau wilayah di Minangkabau. Daerah ini merupakan daerah inti pada masa kejayaan Pagaruyung. Darek terdiri dari "3 luhak" yang lebih dikenal dengan "Luhak Nan Tigo". Adapun daerahnya adalah Luhak Nan Datar (sekarang lebih dikenal dengan Luhak Tanah Datar), Luhak Agam dan Luhak Limopuluah.

Ada yang unik dari ketiga luhak ini. Disetiap luhak di pimpin oleh seorang penghulu yang mengepalai masing-masing suku yang berada dalam luhak tersebut. Jadi akan ada beberapa pemimpin (penghulu) dalam satu luhak. Ketiga luhak ini pemerintahannya akan berpusat di Pagaruyung. Jika ada permasalahan maka raja Pagaruyung akan bertindak sebagai penengah. Sementara itu, pemimpin atau penghulu akan di pilih oleh suku masing-masing.

Selain daerah daerek juga ada istilah "daerah rantau". Jika kamu berpikir daearah rantau minangkabau adalah jawa atau pulau lainnya, anda salah besar. Dulu daerah rantau adalah daerah yang pesisir bagian barat. Selain bagian barat juga berada di daerah Jambi, Riau dan sekitarnya. Fungsi daerah rantau sendiri pada masa Pagaruyuang adalah untuk mencari kehidupan seperti berniaga. Daerah rantau di Minangkabau terkenal dengan Rantau Nan Duo. Rantau nan duo yaitu daerah rantau hilia yang merupakan kawasan pesisir timur seperti Pariaman dan sekitarnya termasuk sebagian kota Padang dan rantau di mudiak meliputi kawasan pesisir barat seperti pesisir selatan dan sekitarnya.



Baca juga: Sistem Kekerabatan Matrilineal Di Minangkabau  dan Uniknya Adat dan Budaya Pernikahan Di Minangkabau

Daerah darek memiliki daerah rantu tersendiri. Luhak tanah datar memiliki daerah rantau ke Jambi dan sekitarnya. Luhak agam memiliki daerah rantau ke Pasaman, Pariaman dan sekitarnya. Dan luhak limopoluah memiliki daerah rantau ke Riau dan sikitarnya. Umumnya daerah rantau ini merupakan daerah yang berhasil ditaklukan oleh kerajaan Pagaruyuang.


Sekarang ini orang Minang masih menggunakan istilah darek untuk menyebutkan asal mereka. Istilah ini masih dipakai tertama oleh mereka yang berasal dari Luhak nan Tigo.


Friday, 28 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

3. Hj. Rasunan Said




















Nama Lengkap : Hajjah Rangkayo Rasuna Said
Tempat Lahir    : Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat
Tanggal Lahir   : Kamis, 15 September 1910
Meninggal        : Jakarta, 2 November 1965

Rasuna Said besal dari keluarga bangsawan di Minangkabau. Ayahnya bernama Muhamad Said, merupakan seorang sudagar kaya dan juga seorang aktivis penggerak di masanya. Hal tersebut menjadi asalan ia mendapatkan pendidikan yang baik.

Rasunan Said bersekolah di pesantren Ar-Rasyidiyah dan ia menjadi satu-satunya santri wanita. melanjutkannya ke Diniyah Putri Padang Panjang. Disana ini bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Ia sempat menjadi guru di Diniyah Putri Padang Panjang. Karena memiliki pandangan yang berbeda tentang perempuan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.

Selain menjadi seorang guru, ia juga merupakan seorang jurnalis. Tulisannya terkenal tajam dan dianggap radikal oleh pemerintahan Belanda dan mendapatakn pengawasan ketat dari polisi. Oleh karena itu akhirnya ia memutuskan untuk pidah ke Medan melanjutkan aktivitas menulisnya dengan menggunkan nama samaran "Selaguri".Selain itu, di Medan ia juga mendirikan perguruan khusus untuk putri.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasunan Sain pernah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakya Repoblik Insonesia Serikat (DPR RIS) dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Sebelumnya ia pernah duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. 


Rahmah El Yunusiya

 

Baca juga:  PAHLAWAN-PAHLAWAN YANG BERASAL DARI SUMATERA BARAT



Wednesday, 26 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

4. Rahmah El Yunusiya


















Nama             : Rahmah El Yunusiya
Tanggal Lahir: 29 Desember 1900
Tempat Lahir : Bukik Surungan, Padang Panjang, Hindia Belanda
Meninggal      :
26 Februari 1969 
Makam           : Padang Panjang


Lahir dari keluarga terpandang Syekh Muhammad Yunus (ayah) dan Rafi'ah (ibu). Ayahnya merupakan seorang hakim dan ilmu falak di daerah Pandai Sikek. Kakeknya merupakan seorang ulama besar dan terkenal di Minangkabau. I merupakan wanita pertama yang mendapat gelar Syaikhah” dari Universitas al-Azhar, Mesir pada 1957.

Dengan latar belakang keluarga memiliki ilmu agama yang baik dan pendidikan di al-Azhar Mesir. Ia merintis sebah sekolah agama untuk putri yang bernama "madrasah diniyyah lil banat/Diniyyah School Puteri" yang di dirikannya di pandang Panjang. Awalnya, ia memanfaatkan sebuah ruang di mesjid Pasar Usang untuk dijadikan tempat belajar. Ia terus mengembangkan dan akhirnya sekolah ini tidak hanya menerima murid dari Sumatera Barat saja, bahkan ada murid yang datang dari Singapuran dan Malaysia.

Pada penjajahan Jepang, Rahmah memimpin Hahanokai di Padangpanjang untuk membantu perwira Giyugun. Selain itu ia juga memelopori berdirinya TKR di Padang Panjang. Ia bersama murid-muridnya juga ikut membantu dalam menyidakan makanan dan obat-obatan bagi pejuang yang terluka.

Dengan sistem dan program pendidikan yang baik, akhirnya sekolah ini menjadi inspirasi bagi Universitas Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Lil Banat (fakultas yang dikhususkan untuk perempuan). Gelar Syaikhah” diberikan kepadanya saat ia mengunjung Mesir pada tahun 1957. Sedangkan pemerintahan Indonesia menganugrahkan Bintang Mahaputra Adipradhana tahun 2013. Ia merupakan pelopor pendidikan Islam di Indonesia. 


Monday, 24 April 2017

Pahlawan Wanita dari Sumatera Barat

2. Roehana Koeddoes


















Nama              : Roehana Koeddoes  
Tanggal Lahir : 20 Desember 1884
Tempat Lahir  : Manggopoh, Agam, Hindia Belanda
Meninggal      : 17 Agustus 1972
Makam           :
Jakarta


Lahir dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (ayah) dan Kiam (ibu). Ia merupakan kakak tiri dari Perdanan Mentri Pertama Indonesia Soetan Sjahrir. Selain itu ia juga merupakan bibi atau "Mak Tuo" (sebutan orang Minang) dari penyair terkenal Indonesia yaitu Chairil Anwar dan juga sepupu dari pahlawan yang juga terkenal di Indonesia yaitu H. Agus Salam.

Roehana tidak mendapatkan pendidikan recara formal. Tetapi ia merupakan perempuan yang rajin dan pintar dalam belajar. Pengetahuan ia dapat dari ayah dan beberapa kenal ayanhnya yang merupakan orang Belanda. Berbekal dari pengatahuan yang ia peroleh tersebut ia mendirikan sekolah khusus perempuan yang bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Pendirian sekolah ini juga mendapat dukungan dari suaminya yang merupakan seorang notaris. 

Roehana Koeddoes merupakan pendiri surat kabar wanita pertama di Indonesia. ia juga seorang wartawan wanita pertama di Indonesia. Perjuangan yang dilakukannya lebih banyak untuk wanita. Tetapiia tidak menuntuk untuk menyamakan antara wanita dengan laki-laki. Ia lebih mengutakan fungsi wanita dan tidak melupakan kodranya sebagai wanita. Baginya wanita juga berhak memiliki ilmu pengetahuan dan mengembangkan keterampilannya. Pengetahuan dan keterampilan ini akan berguna nantinya mendidik anak-anak dan menjaga keharmonisan keluarga nantinya. 

Pergerakan-pergerakan yang dilakukan Roehana Koeddoes lebih banyak berbentuk tulisan. Banyak tulisan-tulisannya yang dapat membangkitkan semangat juang. Tulisannya dibidang polilitik menjadi sumber kekuatan untuk pemuda melawan penjajahan. Pergerakkannya di bidang pendidikan dan jurnalis, mengispirasi pemerintah untuk memberikan anugerah Bintang Jasa Utama kepadanya.


   
 Hj. Rasunan Said